Wajah Sistem Pendidikan di Indonesia



Kita sebagai orang tua seringkali mengikutkan anak kita berbagai macam les tambahan di luar sekolah seperti les matematika, les bahasa inggris, les fisika dan lain-lain. Saya yakin hal ini kita dilakukan untuk mendukung anak agar tidak tertinggal atau menjadi yang unggul di sekolah. Bahkan, terkadang ide awal mengikuti les tersebut tidak datang dari si anak, namun datang dari kita sebagai orang tua. Benar tidak?

Petunjuk Pengisian Raport KTSP

A. Laporan Hasil Belajar (LHB) Peserta Didik

1. Satuan Pendidikan membuat laporan hasil penilaian mata pelajaran untuk semua kelompok mata pelajaran pada akhir semester dalam bentuk buku laporan pendidikan (raport), dan menyampaikan laporan dimaksud kepada orang tua/wali peserta didik.
2. Laporan hasil belajar peserta didik oleh satuan pendidikan harus dapat menggambarkan pencapaian kompetensi peserta didik pada semua mata pelajaran.

Enam Ciri Karakter Anak Bermasalah



“Mungkinkah mengetahui dan memastikan apakah seorang anak itu bermasalah, dalam waktu 5-10 menit pertama saat kita bertemu dengannya?” Jawabannya adalah “mungkin” dan “pasti”.

Pertanyaan yang sering saya ajukan kepada peserta seminar ataupun para orangtua yang sedang bersemangat belajar dan mencecar saya dengan berbagai pertanyaan seputar anaknya.
Rahasia tersebut akan saya bahas sekarang, rahasia yang sering saya gunakan untuk menganalisa seorang anak. Apakah dia bermasalah, bahkan setelah mempelajarinya dengan seksama kita mampu meramal masa depan seorang anak.

Pentingnya Memahami Kebutuhan Emosional Anak



Pada bagian sebelumnya kita telah mempelajari bahwa anak dan remaja lebih dikendalikan oleh emosi-emosi mereka daripada pemikiran rasional dan logis. Emosi ini menjelaskan mengapa anak dan remaja berperilaku demikian, termasuk perilaku yang merusak diri sendiri. Jadi jika kita ingin memotivasi mereka, sebaiknya kita pahami lebih dulu emosi yang mengendalikan mereka dan memanfaatkannya untuk mengarahkan perilaku dan pemikiran yang lebih memperdayakan.

Berikut adalah ketiga kebutuhan emosional anak:

Proses Pembentukan Karakter Pada Anak

 Karakter tidak dapat dibentuk dengan cara mudah dan murah. Dengan mengalami ujian dan penderitaan jiwa karakter dikuatkan, visi dijernihkan, dan sukses diraih ~ Helen Keller
Suatu hari seorang anak laki-laki sedang memperhatikan sebuah kepompong, eh ternyata di dalamnya ada kupu-kupu yang sedang berjuang untuk melepaskan diri dari dalam kepompong. Kelihatannya begitu sulitnya, kemudian si anak laki-laki tersebut merasa kasihan pada kupu-kupu itu dan berpikir cara untuk membantu si kupu-kupu agar bisa keluar dengan mudah. Akhirnya si anak laki-laki tadi menemukan ide dan segera mengambil gunting dan membantu memotong kepompong agar kupu-kupu bisa segera keluar dr sana. Alangkah senang dan leganya si anak laki laki tersebut.Tetapi apa yang terjadi? Si kupu-kupu memang bisa keluar dari sana. Tetapi kupu-kupu tersebut tidak dapat terbang, hanya dapat merayap. Apa sebabnya?
Ternyata bagi seekor kupu-kupu yang sedang berjuang dari kepompongnya tersebut, yang mana pada saat dia mengerahkan seluruh tenaganya, ada suatu cairan didalam tubuhnya yang mengalir dengan kuat ke seluruh tubuhnya yang membuat sayapnya bisa mengembang sehingga ia dapat terbang, tetapi karena tidak ada lagi perjuangan tersebut maka sayapnya tidak dapat mengembang sehingga jadilah ia seekor kupu-kupu yang hanya dapat merayap.
Itulah potret singkat tentang pembentukan karakter, akan terasa jelas dengan memahami contoh kupu-kupu tersebut. Seringkali orangtua dan guru, lupa akan hal ini. Bisa saja mereka tidak mau repot, atau kasihan pada anak. Kadangkala Good Intention atau niat baik kita belum tentu menghasilkan sesuatu yang baik. Sama seperti pada saat kita mengajar anak kita. Kadangkala kita sering membantu mereka karena kasihan atau rasa sayang, tapi sebenarnya malah membuat mereka tidak mandiri. Membuat potensi dalam dirinya tidak berkembang. Memandulkan kreativitasnya, karena kita tidak tega melihat mereka mengalami kesulitan, yang sebenarnya jika mereka berhasil melewatinya justru menjadi kuat dan berkarakter.
Ada satu anekdot yang sering saya sampaikan pada rekan saya, ataupun peserta seminar. Enak mana makan mie instant dengan mie goreng seafood? Umumnya mereka yang suka mie pasti tahu jika mie goreng seafood jauh lebih enak dari mie goreng instant yang hanya bisa dimasak tidak kurang dari 3 menit. Apa yang membedakan enak atau tidaknya dari masakan mie tersebut? Prosesnya!
Sama halnya bagi pembentukan karakter seorang anak, memang butuh waktu dan komitmen dari orangtua dan sekolah atau guru (jika memprioritaskan hal ini) untuk mendidik anak menjadi pribadi yang berkarakter. Butuh upaya, waktu dan cinta dari lingkungan yang merupakan tempat dia bertumbuh, cinta disini jangan disalah artikan memanjakan. Jika kita taat dengan proses ini maka dampaknya bukan ke anak kita, kepada kitapun berdampak positif, paling tidak karakter sabar, toleransi, mampu memahami masalah dari sudut pandang yang berbeda, disiplin dan memiliki integritas (ucapan dan tindakan sama) terpancar di diri kita sebagai orangtua ataupun guru. Hebatnya, proses ini mengerjakan pekerjaan baik bagi orangtua, guru dan anak jika kita komitmen pada proses pembentukan karakter.
Pada awal pembentukan karakter banyak orangtua dan guru bertanya tentang bagaimana mendisiplinkan anak. Ada 6 proses disiplin yang kami bagikan melalui ebook gratis 6 Cara Mendisiplinkan Anak, bagi anda yang belum memiliki ebook ini silahkan di download gratis disini.
Nah, apakah disiplin saja cukup? Bagaimana dengan proses membentuk karakter yang lain? Pada 1 Desember 2011 kemarin, kami menerbitkan ebook 7 Hari Membentuk Karakter Anak. Di ebook ini akan diungkap hal-hal yang sangat jarang diketahui oleh para orangtua dan guru, tentang bagaimana mendidik anak agar tumbuh bahagia dan berkarakter. Disamping itu bukan hanya anak tetapi ebook ini juga memberikan pengarahan bagi orangtua dan guru agar sadar membentuk karakter mereka secara mandiri.
Kembali ke pembentukan karakter, ingat segala sesuatu butuh proses. Mau jadi jelek pun butuh proses. Anak yang nakal itu juga anak yang disiplin lho. Tidak percaya? Dia disiplin untuk bersikap nakal. Dia tidak mau mandi tepat waktu, bangun pagi selalu telat, selalu konsisten untuk tidak mengerjakan tugas dan wajib tidak menggunakan seragam lengkap.
Ada satu kunci untuk menanamkan kebiasaan, ada hukumnya dan hukum itu bernama hukum 21 hari, dalam pembentukan karakter erat kaitannya dengan menciptakan kebiasaan yang baru yang positif. Dan kebiasaan akan tertanam kuat dalam pikiran manusia setelah diulang setiap hari selama 21 hari. Misalnya Anda biasakan anak sehabis bangun tidur untuk membersihkan tempat tidurnya, mungkin Anda akan selalu mengingatkan dan mengawasi dengan kasih sayang (wajib, dengan kasih sayang) selama 21 hari. Tetapi setelah lewat 21 hari maka kebiasaan itu akan terbentuk dengan otomatis. Nah, kini kebiasaan positif apa yang hendak anda tanamkan kepada anak, pasangan dan diri Anda? Anda sudah tahu caranya dan tinggal melakukan saja. Sukses dalam karakter yang terus diperbarui.

Indahnya Matematika, indahnya ciptaan Yang Maha Kuasa


Pernah merasa muak melihat matematika? Merasa hidup tidak kan pernah bisa lepas dari matematika? Merinding, meriang, tidak enak badan bahkan merasa lebih baik ‘mati’ daripada bertatap muka dengan makhluk yang namanya matematika? Maka, “Bertasbihlah, lalu bertahmidlah, lalu bertahlillah, lalu bertakbir me-Maha Besarkan asma-Nya” [Tashiru – T4 (Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir)] saat menlihat artikel ringan ini.

Maka perhatikanlah kekuasaan hukum Allah yang kita sebut matematika. Semoga Sahabat dapat melihat kebesaran serta hikmah juga ibrah lainnya di balik hukum-Nya ini.

1 x 9 + 2 = 11
12 x 9 + 3 = 111
123 x 9 + 4 = 1111
1234 x 9 + 5 = 11111
12345 x 9 + 6 = 111111
123456 x 9 + 7 = 1111111
1234567 x 9 + 8 = 11111111
12345678 x 9 + 9 = 111111111
123456789 x 9 +10 = 1111111111


Alhamdulillah, tidak hanya itu!:
9 x 9 + 7 = 88
98 x 9 + 6 = 888
987 x 9 + 5 = 8888
9876 x 9 + 4 = 88888
98765 x 9 + 3 = 888888
987654 x 9 + 2 = 8888888
9876543 x 9 + 1 = 88888888
98765432 x 9 + 0 = 888888888


Laillahailallah, lihat kekuasanan-Nya!:
1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111 = 12345678987654321


Subhanallah….
Sekarang, perhatikanlah ini:
Jika kita sering mendengar atau berfikir bahwa nilai ‘100%’ itu perfect atau sempurana, maka apakah kita tidak berfikir, “dapatkah sesuatu itu dapat bernilai leih dari sempurna, dari 100%?”. Betapa bersyukurnya mereka yang mendapatkan nilai baik sesuatu sebesar ‘100%’, padahal ada yang lebih dari itu. Dan itu dapat dibuktikan dalam ilmu matematika, statistika. Perhatikan:
Jika:
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
 
Kita umpamakan:
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26.

Maka jika kita jumlahkan:
H-A-R-D-W-O-R-K (kerja keras)
8+1+18+4+23+ 15+18+11 = 98%

Dan:
K-N-O-W-L-E-D-G-E (pengetahuan)
11+14+15+23+ 12+5+4+7+ 5 = 96%

Tapi:
A-T-T-I-T-U-D-E (akhlak baik)
1+20+20+9+20+ 21+4+5 = 100%

Allahuakbar! Ternyata kesempurnaan itu dapat dicapai. Tapi ada yang lebih dari itu, jika kita:
L-O-V-E-O-F-G-O-D (beriman kepada Allah)
12+15+22+5+15+ 6+7+15+4 = 101%

Subhanallah, alhamdulillah, laillahailallah, allahuakbar, ternyata lebih dari itu, sebuah alasan yang akan didapat jika kita dapat benar-benar melaksanakannya. Dan itu berarti, matematika, yang berupa sunatullah (hukum Allah) itu pun dapat berdzikir dan bertasbih dengan memerikan sebuah makna bahwa:
Disaat kerja keras dan pengetahuan mendekatkanmu pada kesempurnaan dan akhlak baik dapat memberikannya. Terlebih dari itu, sebuah balasan lebih baik jika beriman kepada Allah swt. dimana engkau akan ditempatkan di tempat terbaik disisi-Nya, zat yang melebihi nilai sempurna.
Semoga bermanfaat dan merefesh pikiran kita tentang matematika dan Dia yang Maha Kuasa.

sumber

Contoh Format Lembar Kerja Siswa


Format  Lembar Kerja Siswa

Mata Pelajaran ..................................

1.    Judul                               :
2.    Mata Pelajaran  :
3.    Kelas/Semester            :
4.    Waktu                              :
5.    Kompetensi Dasar       :

6.    Petunjuk belajar           :

7.    Informasi

8.    Tugas dan Langkah Kerja

9.    Penilaian
§ Penilaian Kognitif
No
Aspek yang dinilai/unsur surat
Skor
1.
2.
3.
4.
5.

 


Kriteria skor:
Setiap jawaban benar, lengkap           = 20
Jawaban setengah benar                     = 10
Jawaban salah                                         = 0

§ Penilaian psikomotor
No.
Aspek yang dinilai
Skor
1
2
3
4

1.
2.
3.
4.
5.







Jumlah




Kriteria skor:
 4 = Sangat rapi/sangat cepat/sangat tepat
 3 = Rapi/cepat/tepat
 2 = kurang rapi/kurang cepat/kurang tepat
 1 = tidak rapi/lambat/tidak tepat

§ Penilaian afektif
No
Pernyataan
Skala
Sl
Sr
Jr
Tp
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.






Jumlah





Keterangan :           

Aspek yang dinilai

Skor positif
Skor negatif
1.    Sl    = selalu        
2.    Sr  = sering       
3.    Jr  = Jarang       
4.    Tp = Tidak pernah
4
3
2
1
1
2
3
4








Contoh Format RPP


FORMAT RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN



Mata Pelajaran                    :
Kelas/Semester                     :
Waktu                                   :
Pendekatan                           :


A.     Standar Kompetensi  :

B.     Kompetensi Dasar 

C.     Tujuan Pembelajaran

D.     Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

E.     Materi pembelajaran / Materi Pokok dan Uraian Materi:

F.      Kegiatan pembelajaran :


1.      Kegiatan Awal



2.      Kegiatan Inti



3. Kegiatan Akhir



G.    Alat dan Bahan Praktik (Media Pembelajaran):

H. Penilaian

I. Referensi



J. Program Tindak Lanjut / Refleksi

.
K. Lampiran.



                                                                                                         Bandung,                    2012

Mengetahui,                                                                                     Guru Mata Pelajaran,
Kepala Sekolah,